Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Kamis, 10 Mei 2012

BERSIKAP PROPORSIONAL TERHADAP PERADABAN BARAT

Oleh Bambang Purwanto, S. Ag.
Buku dengan judul “Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Liberalisme-Sekularisme” adalah salah satu karya terbaik dari DR. H. Adian Husaini, M.A. Perhatiannya terhadap problem pemikiran Islam dan Barat sejak masih duduk sebagai pelajar tingkat menengah pertama (SMP). Dengan perjalanan intelektual dalam mencermati problem tersebut selama lebih dari 20 tahun dan karirnya sebagai seorang wartawan serta pengalaman belajarnya di ISTAC-IIUM menjadikan salah seorang murid dari Prof. Naquib Al-Attas ini, sebagai sedikit dari pemikir muda Islam yang memahami Oksidentalisme (kajian tentang Barat) secara luas. Buku ini memang memiliki bobot yang tinggi sebagai pembahasan ilmiah. Tetapi dengan kepiawaian penulisnya sebagai seorang wartawan yang pelan-pelan menjalankan peran sebagai pemikir maka buku tersebut dapat dinikmati sebagai bahan yang krekes dan gurih. Bukti apresiasi yang tinggi terhadap buku tersebut antara lain terjadi dalam Islamic Book Fair di Jakarta tahun 2006 dengan terpilihnya sebagai buku terbaik untuk kategori non-fiksi.
Wajah dunia adalah wajah penguasa. Itulah barangkali kesimpulan dari kajian para ahli ilmu sosial bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan manusia tidak terjadi begitu saja. Melainkan merupakan hasil dari sebuah rekayasa dari pihak yang memegang kekuasaan dan mengendalikan media massa. Merekalah yang akan dominan dalam suatu masyarakat tertentu. Karena saat ini Barat merupakan pihak yang sedang berkuasa dan pemegang kendali media maka wajah dunia didominasi oleh peradaban Barat. Jadilah wajah dunia adalah wajah Barat. Hal tersebut antara lain tampak dalam homogenisasi food (makanan), fun (hiburan), fashion (mode) dan thought (pemikiran).
Situasi dunia yang sarat dengan penyebaran budaya Barat yang didominasi dengan budaya konsumerisme, hedonisme dan materialisme itu menjadi tantangan tersendiri bagi umat Islam. Di kalangan umat Islam paling tidak terdapat 3 sikap terhadap peradaban Barat. Ada sebagian umat Islam yang bersikap menelan begitu saja apa yang datang dari Barat, ada sebagian yang menolak mentah-mentah dan sebagian lagi bersikap proporsional. Sikap yang terakhir inilah yang dihimbau oleh DR. Adian melalui karyanya tersebut. Dan sikap yang adil itu bisa muncul jika umat Islam mau memahami peradaban Barat dengan serius dan mendalam.
Lebih jauh DR. Adian sampaikan bahwa sejak kelahirannya, Islam tidak pernah menolak berinteraksi dengan peradaban lain. Ketika itu, di masa-masa embrionalnya, Islam sudah berhadapan dengan dua peradaban besar, Persia dan Romawi, tetapi Islam tidak minder dan gentar. Secara keilmuan kemudian terbukti, para cendekiawan Muslim mampu menyerap berbagai khazanah keilmuan asing, melalui proses adopsi dan adaptasi, yang sebenarnya merupakan proses Islamisasi ilmu. Proses “menolak” (radd) dan “menetapkan” (itsbat) praktis berlangsung dengan baik. Peradaban Islam berkembang dengan gemilang dan bertahan selama ratusan tahun, dengan proses semacam itu. Dengan mengutip pendapat DR. Hamid Fahmy Zarkasyi ---koleganya di INSISTS dinyatakan oleh DR. Adian bahwa untuk mempertahankan dan mengembangkan peradaban Islam tidak berarti menolak mentah-mentah masuknya unsur-unsur peradaban asing. Sebaliknya untuk bersikap adil terhadap peradaban lain tidak berarti bersikap permissif terhadap masuknya segala macam unsur dari peradaban lain tanpa proses adaptasi.(hal. xxxiii).
Melihat realitas empiris dari umat Islam saat ini persoalannya menjadi lain. Karena di samping adanya hegemoni peradaban Barat yang sangat kuat ternyata secara internal menghadapi tradisi keilmuan yang tidak berkembang. Padahal menurut DR. Adian Husaini bahwa tradisi keilmuanlah yang akan mampu membangkitkan satu peradaban. Ironisnya, justru dalam kajian keislaman, tradisi keilmuan ini tidak berkembang dengan baik. Hampir tidak ada perhatian serius di kalangan Muslim-Indonesia, khususnya-untuk melahirkan cendekiawan-cendekiawan yang unggul, yang menguasai wacana Islam dan Barat sekaligus. Begitu juga belum ada satu pun Perguruan Tinggi Islam di Indonesia yang memiliki visi membangun perpustakaan yang lengkap dan berkualitas tinggi, sejajar dengan yang dimiliki kaum Kristen dan Yahudi di negara-negara Barat. Pendidikan masih dijalankan dengan pola massal, mengejar target banyaknya mahasiswa dan sarjana yang dihasilkan, tanpa terlalu menekankan pada aspek kualitas.(hal. xxxiv)
Lebih tragis lagi dengan menguatnya hegemoni Barat dalam studi Islam di perguruan tinggi Islam. DR. Adian Husaini sangat resah dengan adanya fakta bahwa pemikiran dan metodologi Barat dijiplak begitu saja tanpa daya kritis yang berarti. Sehingga berakibat sangat fatal bagi pemahaman dan pengamalan Islam yang benar. Gejala ini menunjukkan bahwa betapa dikalangan kaum terpelajar Muslim yang diharapkan menjadi panutan justru melacurkan diri secara intelekual dalam frame pemikiran Barat. Jadilah mereka kelompok yang terjangkiti penyakit minder terhadap arus pemikiran Orientalis. Barangkali ini salah satu contoh dari sebagian umat Islam yang mengambil sikap menerima mentah-mentah apa yang berasal dari Barat.
Secara lugas dinyatakan oleh DR. Adian bahwa buku ini lahir karena terpacu melihat fenomena meruyaknya “hegemoni Barat” dalam bidang keilmuan keislaman di Indonesia. Pemikiran dan metodologi Barat dijiplak begitu saja tanpa daya kritis yang berarti. Betapa ironinya, selama ratusan tahun kita dijajah belanda, hampir tidak ada kalangan ulama atau cendekiawan Muslim yang menghujat Al-Qur’an atau menyatakan, bahwa semua agama adalah sama, semuanya jalan yang sah menuju kebenaran dan keselamatan. Meruyaknya paham pluralisme agama, penggunaan metodologi hermeneutika untuk tafsir Al-Qur’an, dan sebagainya, justru terjadi dan begitu mudah diserap setelah kita merdeka. Hal-hal yang mendasar dalam Islam dibongkar, didekonstruksi, tanpa memikirkan dampaknya yang serius. Yang lebih merisaukan, persiapan kaum Muslim untuk menghadapi “zaman baru” berupa “perang intelektual” itu begitu minim, bahkan banyak cendekiawan yang menganggap enteng, seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa. (hal. xxxiv)
Dalam menulis buku tersebut seperti dinyatakan sendiri oleh penulisnya bahwa latar belakangnya adalah ingin menunjukkan, bahwa peradaban Barat yang begitu menyilaukan mata dan begitu gemerlap, sejatinya menyimpan potensi ancaman yang begitu dahsyat bagi umat manusia. Tetapi tidak lantas menyebabkan DR. Adian dapat dikesankan sebagai intelektual Muslim yang anti Barat. Karena seperti dalam pengakuannya bahwa untuk bukunya tersebut telah begitu banyak memanfaatkan sumber-sumber Barat untuk memahami masalah.(hal. xxxv)
Oleh karena itu bagi umat Islam, adanya informasi tentang bagaimana sesungguhnya peradaban Barat itu dirasakan penting. Bagaimanapun tentang aspek-aspek pembentuk peradaban Barat, dari mana akarnya adalah penting untuk diketahui oleh umat Islam. Juga tentang proses apa saja yang membawa Barat yang tadinya menjajah ke mana-mana atas nama Gereja lalu kini berubah menjadi Barat yang menolak pada hal-hal yang berbau agama.Tidak kalah pentingnya adalah tentang akibat lanjutan dari dominasi sekularisme-liberalisme terhadap hubungan Barat dengan peradaban lainnya, khususnya Islam.
Seiring dengan kebutuhan diatas maka beberapa tema kunci dari buku tersebut dibahas dalam tiga bagian; 1). DARI KEBINGUNGAN MENUJU KEMATIAN, 2). CARA MEMANDANG ISLAM,3). TEMA-TEMA INVASI PEMIKIRAN. Selanjutnya dari tiga sub judul ini diuraikan secara panjang lebar dalam 15 bab.
Dengan mengambil rujukan dari sumber yang melimpah di perpustakaan ISTAQ dan ketajaman analisisnya maka DR. Adian Husaini telah berhasil menyoroti sisi negatif dari peradaban Barat. Hal tersebut terungkap dalam : Kebingungan Liberalisme (hal. 3-27), Mengapa Barat Menjadi Sekuler-Liberal? (hal. 28-57), Perselingkuhan dengan Zionisme (hal. 58-78),The End of History atau The End of The West? (hal. 79-106), Jalan Kematian Sebuah Peradaban (hal. 107-127).
Peradaban Barat yang dalam perkembangannya menjadi sekuler tentu menarik untuk disimak bagaimana cara memandang mereka terhadap Islam. Dalam buku DR. Adian tersebut dapat dicermati dalam pembahasan tentang: The Clash of Civilizations: Antara Fakta dan Skenario Politik (hal. 131-149), What’s wrong with Bernard Lewis? (hal. 150-167), Beberapa Mitologi tentang Islam (hal. 168-188), Trauma dan Islamofobia (hal. 189-210), Paradoks wacana “Terorisme” dan “Fundamentalisme” (hal. 211-230), Islam-Barat: A Permanent Confrontation (hal. 231-253).
Seperti telah diungkap dimuka bahwa Barat berusaha mempengaruhi masyarakat dunia khususnya umat Islam salah satunya dalam bentuk pemikiran. Maka dalam buku tersebut juga dibahas beberapa serangan pemikiran Barat terhadap pemikiran Islam. Yaitu Invasi Barat dalam Pemikiran Islam (1): Sekularisme (hal. 257-287), Invasi dalam Barat dalam Pemikiran Islam (2): Hermeneutika dan Studi Al-Qur’an (hal. 288-333), Invasi Barat dalam Pemikiran Islam (3): Pluralisme Agama (hal. 334-368) dan Pelajaran dari Kasus Konflik Islam-kristen di Indonesia (hal. 369-392).
Kehadiran buku ini tidak hanya bernilai bagi para pengkaji peradaban Barat dari kalangan umat Islam, tetapi juga penting bagi orang-orang Barat, pada gilirannya akan terbawa untuk lebih adil dalam memandang terhadap Islam dan umat Islam. Paling tidak, ini akan membantu setiap individu untuk tampil sebagai pengkaji peradaban Barat secara lebih cerdas. Demikian juga untuk para pembuat dasar kebijakan Barat terhadap negara-negara Islam sehingga dapat membuka semakin lebar jalan menuju hubungan yang lebih sehat dan adil antara peradaban Barat dan Islam.Namun demikian, berbagai nilai plus gagasan DR. Adian Husaini ini tidak bisa langsung secara komunal terlihat pengaruh aplikatifnya, karena sajiannya masih merupakan tawaran. Tawaran khususnya bagi umat Islam untuk dapat mensikapi peradaban Barat secara proposional. DR. Adian sendiri pun masih harus sabar menunggu. Ia harus menunggu tanggapan dari pembaca, setuju atau tidak setuju.
Judul Buku: Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi
Liberalisme- Sekularisme
Penulis : Adian Husaini
Penerbit : Gema Insani Press
Cetakan : I, 2005
Tebal : 416 hlm

Jumat, 20 April 2012

Kriteria Umat Terbaik

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. ”(Ali Imran / 3 : 110)

Ungkapan dengan kata “ukhrijat” merupakan ungkapan yang menarik perhatian. Ungkapan ini nyaris memperlihatkan tangan yang mengendalikan dengan lembut saat mengekspos umat ini sedemikian rupa dan menariknya keluar dari tataran ghaib yang gelap dan dari balik tabir abadi, hanya Allah yang mengetahui apa yang ada di baliknya. Ia adalah kata yang melukiskan gerak yang tidak diketahui kelebatannya sekaligus lembut ayunannya. Gerak yang menampilkan umat ke pentas wujud. Umat yang memiliki peran khusus, kedudukan khusus, dan perhitungan khusus:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. ”(110)

Hal ini seharusnya diketahui oleh umat Islam, agar mereka memahami hakikat dan nilai umat ini, dan mengetahui bahwa ia ditampilkan untuk menjadi pelopor dan pemimpin, karena mereka adalah merupakan umat terbaik. Allah ingin agar kepemimpinan ini menghasilkan kebaikan di muka bumi ini, bukan keburukan. Oleh sebab itu, umat ini tidak selayaknya mengikuti petunjuk umat lain di antara umat-umat Jahiliyah. Sebaliknya, mereka-lah yang harus memberikan apa yang dimilikinya kepada umat-umat lain, dan selalu memiliki apa yang bisa diberikan. Yaitu keyakinan yang benar, konsepsi yang benar, sistem yang benar, akhlaq yang benar, pengetahuan yang benar dan ilmu yang benar.
Itulah kewajiban yang harus dilakukan sesuai dengan tuntutan dan tujuan eksistensinya. Yaitu senantiasa menjadi pelopor dan berada pada posisi pemimpin. Posisi ini memiliki banyak tanggungjawab. Posisi ini tidak bisa diraih dengan pengakuan semata, dan tidak akan diserahkan kepada umat ini kecuali jika mereka telah memiliki kelayakan untuk menerimanya. Dengan konsepsi akidahnya dan dengan sistem sosialnya, umat ini layak untuk menerima posisi tersebut.
Demikian juga dengan kemajuan ilmu pengetahuannya dan peradaban yang dibangunnya di muka bumi—dalam rangka melaksanakan tugas khilafah—maka mereka layak menduduki posisi tersebut. Dari sini jelas bahwa manhaj yang menjadi landasan berdirinya umat ini menuntut mereka untuk melakukan banyak hal dan mendorongnya agar menjadi terdepan dalam segala bidang. Asalkan mereka mengikuti manhaj, komit terhadapnya, dan menyadari berbagai konsekuensi dan tanggungjawabnya.
Konsekwensi pertama dari posisi ini adalah melindungi kehidupan ini dari keburukan dan kerusakan. Hendaknya mereka memiliki kekuatan yang memungkinkan untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, karena mereka adalah umat terbaik yang dimunculkan ke hadapan manusia. Bukan karena basa-basi atau pilih kasih, bukan karena kebetulan atau sembarangan—Mahasuci Allah dari semua itu—dan bukan pula jatah kehormatan dan kemuliaan sebagaimana dikatakan Ahli Kitab: “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-Nya”.(5:18) Tidak! Melainkan didasari dengan tindakan aktif untuk melindungi kehidupan umat manusia dari kemungkaran, memberdirikan mereka di atas kebajikan, disertai iman yang dapat mendefinisikan mana yang ma’ruf dan mana yang munkar:

“Menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. ” (110)

Itulah upaya melaksanakan segala tugas umat terbaik, dengan segala keletihan di balik tugas-tugas ini, dan dengan duri-duri yang ada di jalannya. Itulah upaya menentang keburukan, menggalakkan kebaikan, dan melindungi masyarakat dari berbagai faktor kerusakan. Semua itu adalah kesulitan yang berat, tetapi merupakan keharusan untuk menegakkan dan melindungi masyarakat yang baik, dan untuk mewujudkan bentuk kehidupan yang diinginkan Allah.
Harus ada iman kepada Allah untuk meletakkan kriteria yang benar tentang nilai, dan untuk menghasilkan definisi yang benar mengenai apa itu ma’ruf dan mungkar. Karena istilah masyarakat saja belum cukup. Ada kalanya kerusakan menyebar luas sehingga parameter dan kriteria menjadi tidak normal dan rusak, sehingga harus kembali kepada konsepsi yang baku tentang kebaikan dan keburukan, tentang keutamaan dan kenistaan, tentang yang ma’ruf dan yang mungkar, yang didasarkan pada landasan lain di luar terminologi manusia dalam salah satu generasi.
Itulah yang direalisasikan iman dengan cara meluruskan konsepsi yang benar tentang alam wujud dan hubungannya dengan Penciptanya. Juga tentang manusia, tujuan eksistensinya, dan posisinya yang sebenarnya di alam semesta ini. Dari konsepsi umum ini lahir kaidah-kaidah akhlaq. Dengan stimulasi untuk mencari ridha Allah dan menghindari murka-Nya, manusia terdorong untuk mewujudkan kaidah-kaidah tersebut. Dengan pengaruh keberadaan Allah di hati dan pengaruh syari’at-Nya di tengah masyarakat, kontrol dapat dilakukan dengan berdasarkan kaidah-kaidah tersebut.
Iman juga diperlukan agar para penyeru kebaikan, pelaku amar ma’ruf dan nahi munkar itu bisa meniti jalan yang berat ini dan mampu menanggung segala bebannya, di saat mereka menghadapi para thaghut kejahatan yang berbuat zhalim, di saat mereka menghadapi para thaghut syahwat yang mencari pelampiasan, di saat mereka menghadapi jatuhnya mental, kendornya semangat, beratnya tujuan. Bekal mereka adalah iman, perlengkapan mereka adalah iman, dan sandaran mereka adalah Allah. Semua bekal selain bekal iman pasti habis, semua sarana selain sarana iman pasti rusak, dan semua sandaran selain sandaran Allah pasti!
Dalam rangkaian ayat ini, telah disampaikan perintah kepada jama’ah Muslim agar ada di antara mereka yang bangkit untuk mengajak kepada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Dan di sini Allah menjelaskan bahwa itulah sifat-sifat Jama’ah Muslim, untuk menunjukkan bahwa tidak ada wujud hakiki kecuali dengan terpenuhinya sifat utama ini, yang dengannya Jama’ah ini dikenal didalam masyarakat manusia. Jika telah melaksanakan da’wah kepada kebaikan, mmerintahkan yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran—disertai iman kepada Allah—maka Jama’ah ini berarti telah eksis dan Muslim. Tetapi jika tidak melaksanakan sesuatu dari hal ini maka Jama’ah ini tidak eksis dan tidak merealisasikan sifat Islam pada dirinya.

Sabtu, 07 April 2012

500 Orang Tua Belajar " Smart Parenting "

Pada Hari Sabtu Tanggal 7 April tahun 2012 kurang lebih 500 orang yang didominasi oleh wali murid , guru TK/PAUD dan SD dibawah naungan LSU Bina Insani Kebumen memadati Aula Jatijajjar Hotel Candisari dalam acara seminar Smart Parenting " Indahnya Belajar Bersama Anak “. Acara ini selenggarakan oleh BITA dan LSU Bina Insani , dan dibuka oleh Ketua LSU Bina Insani Dra. Sri Winari, Mh. Seminar ini merupakan salah satu angenda BITA untuk meningkatkan kualitas Pendidik dan membangun kesepahaman dan keselarasan dalam mendidik anak dengan orang tua agar terwujud pendidikan yang berkualitas. Acara seminar ini menghadirkan narasumber Moh Fauzil Adhim, seorang pendidik,psikolog dan penulis buku best seller dari Jogjakarta.

Karena anak-anak begitu berharga, maka masa kanak-kanak merupakan masa yang luar biasa penting untuk membantu anak tumbuh secara benar. Maksudnya adalah agar anak-anak tumbuh dan berkembang sebagai anak-anak, secara optimal, namun tetap wajar sesuai dengan tahapan perkembangannya.

Perkembangan adalah sebuah proses. Sebagai sebuah proses, ia berlangsung terus menerus seumur hidup seseorang. Dan perkembangan seorang manusia, dimulai sejak pembuahan, ketika ia tumbuh dalam kandungan ibu, dilahirkan, tumbuh sebagai anak-anak, remaja, menjadi dewasa, sampai akhir hayatnya nanti. Di sepanjang rentang kehidupan seseorang, ada tahapan-tahapan perkembangannya. Dan dalam setiap tahapan perkembangan tersebut, ada tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi, agar ia tumbuh sebagai pribadi yang sehat, bahagia dan utuh, serta siap menjalani tugas perkembangan di tahapan berikutnya.

Kamis, 05 April 2012

"BITA" Berencana Menyenggarakan Seminar " Smart Parenting "

“Wahai Rabbi, anugerahkanlah kepadaku (anak) yang termasuk orang-orang salih.” (Q.S. ash-Shâffât: 100).
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (Tahrim:6)
Anak adalah amanah yang diberikan kepada kita, namun di jaman ini mendidik anak bukanlah perkara mudah, mendidik anak akan berhasil manakala kita mempunyai ilmu tentang mendidik anak. Ilmu merupakan kebutuhan primer setiap insan dalam setiap lini kehidupannya, termasuk dalam mendidik anak. Bahkan kebutuhan dia terhadap ilmu dalam mendidik anak, melebihi kebutuhannya terhadap ilmu dalam menjalankan pekerjaannya. Namun, realita berkata lain. Rupanya tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua.
Berkenaan dengan hal tersebut diatas BITA ( Bina Insani Asosiation of Teacher ) berencana mengadakan Seminar sehari tentang “ Smart Parenting “ Pada hari Sabtu Tanggl 7 April 2012, bertempat di Hotel Candisari Karanganyar dengan menghadirkan narasumber Ustad Moh. Fauzil Adhim.

Rabu, 28 Maret 2012

Catantan Kecil, menjelang Konsolidasi Bidang Ekonomi LSU Bina Insani

Menjelang 31 Maret 2012
Peradaban akan tumbuh manakala berkembang ilmu pengetahuan dan tumbuh kesejahteraan masyarakat untuk memuwujudkan hal tersebut diatas tentunya harus dilakukan dengan serius dan bertahap. LSU Bina Insani sebagai sebuah lembaga yang mempunyai visi untuk membangun peradaban yang lebih baik tetunya di tuntut untuk berkiprah pada bidang Ekonomi.
Beberapa tahun kedepan tantangan untuk pengembangan bidang ekonomi LSU Bina Insani adalah sebagai berikut :
1. Membangun Usaha Untuk Memperkokoh Kemandirian Lembaga
Salah satu tantangan lembaga kemasyarakat adalah kemandirian pembiayaan, semakin mandiri maka ia akan semakin leluasa mengembangkan program dan kegiatan untuk mencapai Visi dan Misi lembaga tanpa tergantung dari sumber pembiayaan dari luar. Beberapa tantangan kedepan yang harus segera dijawab adalah memperbesar dan memperluas layanan Jasa Keuangan Syariah ( BMT Bina Insani ),Konsolidasi Usaha Katering , Memperbaiki managemen usaha konveksi dan mengembangan usaha perdagangan umum.
2. Memberdayakan Eknomi Masyarakat.
Untuk program Pemberdayaan ekonomi masyarakat tantangan kedepan adalah sebagai berikut :
a. Memperkuat program pemberdayan Masyarakat melalui kegiatan KBU ( kelompok belajar usaha ) serta memperluas sasaran kegiatan Pinjaman Qordhul Hasan ( pinjaman tanpa bunga ) untuk para pedagang kecil.
b. Membangun kelembagaan ekonomi masyarakat dengan dengan mendirikan koperasi wanita dan koperasi pondok pesantren.

Selamat melakukan konsolidasi ekonomi.

Rabu, 14 Maret 2012

Kesan Peserta Pelatihan Menggambar Di SD IT LOGARITMA


KB PERTIWI Karanganyar:
Senang, seru yang pasti bertambah ilmu untuk berbagi bersama anak-anak
Secara keseluruhan saya sebagai peserta sangat puas dan bersemangat.

TK BAM Pandansari
Bagi saya dengan adanya kegiatan ini (pelatihan melukis), saya sangat karena saya jadi lebih tahu cara-cara melukis, mewarnai dan bagi saya sangat bermanfaat, saya jadi tambah ilmu tentang hal mewarnai dan menggambar.
Kesan.
Hanya ingin lebih lama karena dengan kegiatan ini, kita sangat menikmati sekali, karena bagi saya sangat bermanfaat.

TK Karanggayam
Alhamdulillah saya bias mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan pelatihan melukis, ada suatu kesan buat saya, saya bisa belajar dan menikmati dengan senang hati. Ada suatu cara/ilmu seni yang bisa saya ambil manfaatnya, dan ini nanti bisa saya terapkan/disampaikan ke siswa/rekan-rekan guru di sekolah.

TK Candi
Alhamdulillah …..
Hebat …. SDIT bikin acara yang lebih kreatif buat membekali guru TK dan KB ?/PAUD.lebih tahu tindak lanjutnya.
Bikin Kompetensi guru TK ya ?

TK Aisyiah sruweng
Alhamdulillah dengan di adakannya pelatihan melukis saya pribadi jadi tahu bagaimana cara melukis yang benar dan baik ,dan bagaimana mencampur warna yang proposional.

TK Pekuncen
Dengan kegiatan ini saya sangat senang,karena dapat menambah ilmu tentang melukis,apalagi narasumbernya Oke … Bangettttzzzzz
Semoga acara ini tidak terhenti sampai disini, karena memberi ilmu itu ibadah dan menambah pahala, apalagi untuk sesame muslim.

TK Indria Kr Anyar
Alhamdulillah….
Kegiatannya bagus. Semoga besok kegiatannya ada lagi dan di tambah waktunya tidak hanya 1 hari saja.

Thanks for SDIT LOGARITMA . . . . . . .


Saya sangat berharap acara lukis ini ada tindak lanjut lagi dilain hari.