Madrasah diniyah memiliki signifikansi dalam melestarikan kontinuitas pendidikan islam dan nilai-nilai moral etis keislaman bagi masyarakat. Madrasah Diniyah Islamiyah Bina Insani Grenggeng adalah slah satu upaya LSU Bina Insani meberikan pelayanan pendidikan keagamaan pada anak dan remaja. Madrasah Diniyah Islamiyah Bina Insani Grenggeng dengan nomor satatistik madrasah diniyah : 211233050108 didirikan pada tahun 1997 saat ini di dipimpin oleh Ustadz Sudiyanto S. Pd I. Untuk meningkatkan kualitas PBM Madrasah Diniyah Islamiyah Bina Insani Grenggeng berencana membangun Ruang Klas Baru ( RKB ) memnfaatkan tanah wakah dari Sdr Awal Giyono seluas 162 m2. Bagi yang tertarik menafkan hartanya di jalan Alloh bisa menghubungi Ustad Sudiyanto S. Pd I ( Hp : 085 328 015 720 )
Sabtu, 15 Januari 2011
Madrasah Diniyah Islamiyah Bina Insani Grenggeng
Madrasah diniyah memiliki signifikansi dalam melestarikan kontinuitas pendidikan islam dan nilai-nilai moral etis keislaman bagi masyarakat. Madrasah Diniyah Islamiyah Bina Insani Grenggeng adalah slah satu upaya LSU Bina Insani meberikan pelayanan pendidikan keagamaan pada anak dan remaja. Madrasah Diniyah Islamiyah Bina Insani Grenggeng dengan nomor satatistik madrasah diniyah : 211233050108 didirikan pada tahun 1997 saat ini di dipimpin oleh Ustadz Sudiyanto S. Pd I. Untuk meningkatkan kualitas PBM Madrasah Diniyah Islamiyah Bina Insani Grenggeng berencana membangun Ruang Klas Baru ( RKB ) memnfaatkan tanah wakah dari Sdr Awal Giyono seluas 162 m2. Bagi yang tertarik menafkan hartanya di jalan Alloh bisa menghubungi Ustad Sudiyanto S. Pd I ( Hp : 085 328 015 720 )
Menggagas Pusat Dakwah, Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat. ( PPPM – Bina Insani )
Kondisi umat yang belum memahami Islam secara benar dan utuh, Lemahnya kualaitas SDM serta kemiskinan dan kemunduran ekonomi menjadi PR yang berat bagi umat Islam . Sementara arus globalisasi ( westernisasi ) melanda di segala bidang dan menyeruak sampai wilayah wilayah pedesaan. Globalisasi disamping membawa manfaat disisi lain juga membawa tantangan dan efek buruk. Hal ini tentunya menuntut umat Islam untuk menyikapi dan bertindak secara tepat dan cerdas dengan tetap berpedomanan pada nilai dan syariat Islam. Memahami kondisi diatas LSU Bina Insani sebagai sebuah lembaga yang mempunyai visi untuk memajukan peradaban yang berdasar pada nilai nilai Islam mempunyai rencana jangka panjang untuk mendirikan Pusat Dakwah, Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat dengan mengadopsi dan memadukan konsep pesantren, pedepokan dan PKBM ( Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat ). Lokasi pembangunan direncanan di Kecamatan Karanggayam dengan memanfaatkan tanah wakaf ( dengan luas 1 Ha ) yang telah diamanahkan kepada LSU Bina insani.
Pusat Dakwah, Pendidikan dan Pemberdayaan Masayarakt ( PPPM Bina Insani ) diharapkan menjadi pusat ibadah, tempat pembelajaran ilmu agama, tempat pendidikan formal dan non formal ( pendidikan kesetaraan dan kursus kursus ketrampilan) , tempat demplot pertanian dan peternakan serta sebagai tempat untuk diskusi dan pertemuan masyarakat dalam memecahkan problematikan kehidupan. Ini memang sebuah gagasan besar yang tentunya juga membutuhkan sdm dan biaya yang besar untuk itulah kami mengundang partisipasi pihak pihak yang mempuyai kepedulian terhadap kemajuan umat Islam.
Minggu, 09 Januari 2011
Tamu yang Cantik, Intelek, dan Sederhana
Hari Kamis tanggal 30 Desember 2010, LSM Bina Insani kedatangan tamu Mahasiswa S3 Universitas Bristol, Inggris, yang berasal dari Korea Selatan. Berhubung sebagian besar pengurus sedang rapat di Komplek Pesantren Daruth Thoyibah, maka tamu dari Korea Selatan itu diterima di Pesantren yang terletak di JL.Kelurahan Jatiluhur, KM.1, Karanganyar, tidak di kantor Bina Insani jalan Raya Pejagoan Kebumen.
Dijamu Sayur Lodeh Jantung Pisang/Monteng
Ternyata Choi In A amat senang diajak ngobrol santai di Gazebo pesantren yang berada di atas kolam ikan, dengan bahasa Indonesia yang masih terbata-bata dan Bahasa Inggris yang kalah fasih dengan Mrs. Cici Faizal, Guru Bahasa Inggris di Pondok Pesantren Daruth Thoyibah.
Amat sederhana tempat untuk menerima tamu tersebut, tetapi cukup berkesan sekaligus dengan kesederhanaan lain yaitu dijamu dengan menu yang betul-betul ndeso…..yaitu sayur lodeh jantung pisang. …… Demikian disampaikan oleh ketua LSM Bina Insani, Dra Sri Winarti, M.H atau Mbak Wien. “Karena kami betul-betul tidak siap menjamu jamuan yang memadai, apalagi tamu dari mancanegara, namun kami bersyukur karena acara makan siang hari itu tampak amat berkesan, dan barangkali seumur hidup juga baru kali ini ia menikmati sayur ndeso itu”.
Di Indonesia berumur 28 di Korea 29
In A yang masih amat muda untuk seorang mahasiswa S3, karena baru berumur 28 tahun, yang kemudian disambut oleh aktifis muda Bina Insani, Divin. “Itu umur Indonesia atau Korea?” Ia amat terkesan karena ada anak muda Indonesia yang mengetahui budaya Korea, karena bila umur menurut sistim Indonesia 28, maka menurut sistim korea adalah 29 tahun karena dalam kandungan dihitung satu tahun. Ia juga amat senang karena ternyata anak muda di Indonesia seperti aktifis muda Bina Insani itu amat paham bintang-bintang Korea, bahkan tahu beberapa potongan bahasa Korea, karena memang sinetron dan lagu-lagu korea banyak penggemarnya di kalangan kawula muda kita.
Tugas Penelitian Untuk Disertasi
Choi In A datang ke Indonesia melakukan penelitian untuk tugas Disertasi S3nya di Universitas Bristol Inggris, jurusan Sosiologi & Hubungan Internasional. Di Kebumen juga bagian dari penelitian untuk bertemu dengan berbagai pihak, eksekutive, legislative, dan dari kalangan N.G.O.
Anak muda Indonesia perlu banyak berkaca dari In A, seorang anak muda yang energik, intelek, tapi tetap sederhana…………., ternyata pengetahuannya tentang musisi Korea masih kalah dengan aktifis muda Bina Insani. “oo itu gak ganteng matanya terlalu sipit…..” begitu komentarnya ketika membahas seorang artis Korea yang sedang ngetop. Lho ternyata gadis Korea ini gak suka yang matanya sipit…….? ***
Dijamu Sayur Lodeh Jantung Pisang/Monteng
Ternyata Choi In A amat senang diajak ngobrol santai di Gazebo pesantren yang berada di atas kolam ikan, dengan bahasa Indonesia yang masih terbata-bata dan Bahasa Inggris yang kalah fasih dengan Mrs. Cici Faizal, Guru Bahasa Inggris di Pondok Pesantren Daruth Thoyibah.
Amat sederhana tempat untuk menerima tamu tersebut, tetapi cukup berkesan sekaligus dengan kesederhanaan lain yaitu dijamu dengan menu yang betul-betul ndeso…..yaitu sayur lodeh jantung pisang. …… Demikian disampaikan oleh ketua LSM Bina Insani, Dra Sri Winarti, M.H atau Mbak Wien. “Karena kami betul-betul tidak siap menjamu jamuan yang memadai, apalagi tamu dari mancanegara, namun kami bersyukur karena acara makan siang hari itu tampak amat berkesan, dan barangkali seumur hidup juga baru kali ini ia menikmati sayur ndeso itu”.
Di Indonesia berumur 28 di Korea 29
In A yang masih amat muda untuk seorang mahasiswa S3, karena baru berumur 28 tahun, yang kemudian disambut oleh aktifis muda Bina Insani, Divin. “Itu umur Indonesia atau Korea?” Ia amat terkesan karena ada anak muda Indonesia yang mengetahui budaya Korea, karena bila umur menurut sistim Indonesia 28, maka menurut sistim korea adalah 29 tahun karena dalam kandungan dihitung satu tahun. Ia juga amat senang karena ternyata anak muda di Indonesia seperti aktifis muda Bina Insani itu amat paham bintang-bintang Korea, bahkan tahu beberapa potongan bahasa Korea, karena memang sinetron dan lagu-lagu korea banyak penggemarnya di kalangan kawula muda kita.
Tugas Penelitian Untuk Disertasi
Choi In A datang ke Indonesia melakukan penelitian untuk tugas Disertasi S3nya di Universitas Bristol Inggris, jurusan Sosiologi & Hubungan Internasional. Di Kebumen juga bagian dari penelitian untuk bertemu dengan berbagai pihak, eksekutive, legislative, dan dari kalangan N.G.O.
Anak muda Indonesia perlu banyak berkaca dari In A, seorang anak muda yang energik, intelek, tapi tetap sederhana…………., ternyata pengetahuannya tentang musisi Korea masih kalah dengan aktifis muda Bina Insani. “oo itu gak ganteng matanya terlalu sipit…..” begitu komentarnya ketika membahas seorang artis Korea yang sedang ngetop. Lho ternyata gadis Korea ini gak suka yang matanya sipit…….? ***
Sabtu, 01 Januari 2011
Wasiat Ali radhiallahu ‘anhu kepada muridnya, Kumail bin Ziyad
Ali radhiallahu ‘anhu berwasiat kepada muridnya, Kumail bin Ziyad,
يا كميل بن زياد القلوب أوعية فخيرها أوعاها للعلم احفظ ما أقول لك الناس ثلاثة فعالم رباني ومتعلم على سبيل نجاة وهمج رعاع اتباع كل ناعق يميلون مع كل ريح لم يستضيئوا بنور العلم ولم يلجئوا إلى ركن وثيق
“Wahai Kumail bin Ziyad. Hati manusia itu bagaikan bejana (wadah). Oleh karena itu, hati yang terbaik adalah hati yang paling banyak memuat ilmu. Camkanlah baik-baik apa yang akan kusampaikan kepadamu. Manusia itu terdiri dari 3 kategori, seorang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya. Seorang yang terus mau belajar, dan orang inilah yang berada di atas jalan keselamatan. Orang yang tidak berguna dan gembel, dialah seorang yang mengikuti setiap orang yang bersuara. Oleh karenanya, dia adalah seorang yang tidak punya pendirian karena senantiasa mengikuti kemana arah angin bertiup. Kehidupannya tidak dinaungi oleh cahaya ilmu dan tidak berada pada posisi yang kuat.” (Hilyah al-Auliya 1/70-80).
يا كميل بن زياد القلوب أوعية فخيرها أوعاها للعلم احفظ ما أقول لك الناس ثلاثة فعالم رباني ومتعلم على سبيل نجاة وهمج رعاع اتباع كل ناعق يميلون مع كل ريح لم يستضيئوا بنور العلم ولم يلجئوا إلى ركن وثيق
“Wahai Kumail bin Ziyad. Hati manusia itu bagaikan bejana (wadah). Oleh karena itu, hati yang terbaik adalah hati yang paling banyak memuat ilmu. Camkanlah baik-baik apa yang akan kusampaikan kepadamu. Manusia itu terdiri dari 3 kategori, seorang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya. Seorang yang terus mau belajar, dan orang inilah yang berada di atas jalan keselamatan. Orang yang tidak berguna dan gembel, dialah seorang yang mengikuti setiap orang yang bersuara. Oleh karenanya, dia adalah seorang yang tidak punya pendirian karena senantiasa mengikuti kemana arah angin bertiup. Kehidupannya tidak dinaungi oleh cahaya ilmu dan tidak berada pada posisi yang kuat.” (Hilyah al-Auliya 1/70-80).
Menjadi Pribadi Yang Bersyukur
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA“Mereka (Para Jin) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya, di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur kepada Allah. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur”. (Saba’:13)
Ayat ini mengabadikan anugerah nikmat yang tiada terhingga kepada keluarga nabi Daud as sebagai perkenan atas permohonan mereka melalui lisan nabi Sulaiman as yang tertuang dalam surah Shaad: 35, “Ia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. Betapa nikmat yang begitu banyak ini menuntut sikap syukur yang totalitas yang dijabarkan dalam bentuk amal nyata sehari-hari.
Tampilnya keluarga Daud sebagai teladan dalam konteks bersyukur dalam ayat ini memang sangat tepat, karena dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw bersabda:
“Shalat yang paling dicintai oleh Allah adalah shalat nabi Daud; ia tidur setengah malam, kemudian bangun sepertiganya dan tidur seperenam malam. Puasa yang paling dicintai oleh Allah juga adalah puasa Daud; ia puasa sehari, kemudian ia berbuka di hari berikutnya, dan begitu seterusnya”.
Bahkan dalam riwayat Ibnu Abi Hatim dari Tsabit Al-Bunani dijelaskan bagaimana nabi Daud membagi waktu shalat kepada istri, anak dan seluruh keluarganya sehingga tidak ada sedikit waktupun, baik siang maupun malam, kecuali ada salah seorang dari mereka sedang menjalankan shalat. Dalam riwayat lain yang dinyatakan oleh Al-Fudhail bin Iyadh bahwa nabi Daud pernah mengadu kepada Allah ketika ayat ini turun. Ia bertanya: “Bagaimana aku mampu bersyukur kepada Engkau, sedangkan bersyukur itupun nikmat dari Engkau? Allah berfirman, “Sekarang engkau telah bersyukur kepadaKu, karena engkau mengakui nikmat itu berasal daripada-Ku”.
Keteladanan nabi Daud yang disebut sebagai objek perintah dalam ayat perintah bersyukur di atas, ternyata diabadikan juga dalam beberapa hadits yang menyebut tentang keutamaan bekerja. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seseorang itu makan makanan lebih baik dari hasil kerja tangannya sendiri. Karena sesungguhnya nabi Daud as senantiasa makan dari hasil kerja tangannya sendiri.”
Bekerja yang dilakukan oleh nabi Daud tentunya bukan atas dasar tuntutan atau desakan kebutuhan hidup, karena ia seorang raja yang sudah tercukupi kebutuhannya, namun ia memilih sesuatu yang utama sebagai perwujudan rasa syukurnya yang tiada terhingga kepada Allah swt.
Secara redaksional, yang menarik karena berbeda dengan ayat-ayat yang lainnya adalah bahwa perintah bersyukur dalam ayat ini tidak dengan perintah langsung “Bersyukurlah kepada Allah”, tetapi disertai dengan petunjuk Allah dalam mensyukuri-Nya, yaitu “Bekerjalah untuk bersyukur kepada Allah”. Padahal dalam beberapa ayat yang lain, perintah bersyukur itu langsung Allah sebutkan dengan redaksi fi’il Amr, seperti dalam firman Allah yang bermaksud, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku”. (Al-Baqarah: 152), juga dalam surah Az-Zumar: 66, “Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.
Redaksi seperti dalam ayat di atas menunjukkan bahwa esensi syukur ada pada perbuatan dan tindakan nyata sehari-hari. Dalam hal ini, Ibnul Qayyim merumuskan tiga faktor yang harus ada dalam konteks syukur yang sungguh-sungguh, yaitu dengan lisan dalam bentuk pengakuan dan pujian, dengan hati dalam bentuk kesaksian dan kecintaan, serta dengan seluruh anggota tubuh dalam bentuk amal perbuatan.
Sehingga bentuk implementasi dari rasa syukur bisa beragam; shalat seseorang merupakan bukti syukurnya, puasa dan zakat seseorang juga bukti akan syukurnya, segala kebaikan yang dilakukan karena Allah adalah implementasi syukur. Intinya, syukur adalah takwa kepada Allah dan amal shaleh seperti yang disimpulkan oleh Muhammad bin Ka’ab Al-Quradhi.
Az-Zamakhsyari memberikan penafsirannya atas petikan ayat, “Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur kepada Allah” bahwa ayat ini memerintahkan untuk senantiasa bekerja dan mengabdi kepada Allah swt dengan semangat motifasi mensyukuri atas segala karunia nikmat-Nya. Ayat ini juga menjadi argumentasi yang kuat bahwa ibadah hendaklah dijalankan dalam rangka mensyukuri Allah swt.
Makna inilah yang difahami oleh Rasulullah saw ketika Aisyah mendapati beliau senantiasa melaksanakan shalat malam tanpa henti, bahkan seakan-akan memaksa diri hingga kakinya bengkak-bengkak. Saat ditanya oleh Aisyah, “Kenapa engkau berbuat seperti ini? Bukankah Allah telah menjamin untuk mengampuni segala dosa-dosamu?” Rasulullah menjawab, “Tidakkah (jika demikian) aku menjadi hamba Allah yang bersyukur”. (HR. Al-Bukhari).
Pemahaman Rasulullah saw akan perintah bersyukur yang tersebut dalam ayat ini disampaikan kepada sahabat Mu’adz bin Jabal ra dalam bentuk pesannya setiap selesai sholat, “Hai Muaz, sungguh aku sangat mencintaimu. Janganlah engkau tinggalkan setiap selesai sholat untuk membaca do’a, “Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa berzikir (mengingatiMu), mensyukuri (segala nikmat)Mu, dan beribadah dengan baik”. (HR. Abu Daud dan Nasa’i).
Dalam pandangan Sayid Qutb, penutup ayat di atas “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur” merupakan sebuah pernyataan akan kelalaian hamba Allah swt dalam mensyukuri nikmat-Nya, meskipun mereka berusaha dengan semaksimal mungkin, tetapi tetap saja mereka tidak akan mampu menandingi nikmat Allah swt yang dikaruniakan terhadap mereka yang tidak terbilang. Sehingga sangat ironis dan merupakan peringatan bagi mereka yang tidak mensyukurinya sama sekali. Dalam hal ini, Umar bin Khattab ra pernah mendengar seseorang berdo’a, “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan yang sedikit”. Mendengar itu, Umar terkejut dan bertanya, “Kenapa engkau berdoa demikian?” Sahabat itu menjawab, “Karena saya mendengar Allah berfirman, “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur”, makanya aku memohon agar aku termasuk yang sedikit tersebut.
Ciri lain seorang hamba yang bersyukur secara korelatif dapat ditemukan dalam ayat setelahnya bahwa ia senantiasa memandang segala jenis nikmat yang terbentang di alam semesta ini sebagai bahan perenungan akan kekuasaan Allah swt yang tidak terhingga, sehingga hal ini akan menambah rasa syukurnya kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Allah swt berfirman diantaranya, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur”. (Saba’:19). Ayat yang senada dengan redaksi yang sama diulang pada tiga tempat, yaitu surah Ibrahim: 5, Luqman: 31, dan surah Asy-Syura’: 33.
Memang komitmen dengan akhlaqul Qur’an, di antaranya bersyukur merupakan satu tuntutan sekaligus kebutuhan di tengah banyaknya cobaan yang menerpa bangsa ini dalam beragam bentuknya. Jika segala karunia Allah swt yang terbentang luas dimanfaatkan dengan baik untuk kebaikan bersama dengan senantiasa mengacu kepada aturan Allah swt, Sang Pemilik Tunggal, maka tidak mustahil, Allah swt akan menurunkan rahmat dan kebaikanNya untuk bangsa ini dan menjauhkannya dari malapetaka, karena demikianlah balasan yang tertinggi yang disediakan oleh Allah swt bagi komunitas dan umat yang senantiasa mampu mensyukuri segala bentuk nikmat Allah swt:
“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui”. (An-Nisa’:147) Allahu A’lam.
Jumat, 31 Desember 2010
“STOP” Kekerasan Pada Anak

Tidaklah salah kalau kita mencoba memperhatikan kembali sebuah puisi dari Dorothy Law Nolte, yang mudah-mudahan saja kita bisa mengambil hikmahnya :
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan/kekerasan, ia belajar membenci/berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah.
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mengasihi.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi.
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan.
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan kasih dalam kehidupan.
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar damai dengan pikiran.
Langganan:
Postingan (Atom)