Mengapa Minder terhadap Barat?
Oleh Adian Husaeni
Menurut Prof. Naquib al-Attas, bukan hanya dari segi ajaran, Islam membongkar dasar-dasar kepercayaan agama Kristen, tetapi kemuncuan Islam pada awal abad ke-7 M, juga memberikan tantangan hebat terhadap eksistensi politik, ekonomi, dan geografi Kristen. Fajar Islam kemudian mengubah peta sejarah, khususnya di kawasan Timur Tengah. Islam menggantikan posisi Kristen sebagai agama dominan saat itu. Secara panjang lebar hal ini dikatakan oleh al-Attas dalam bukunya “Risalah untuk Kaum Muslimin” sebagai berikut:
“Pada waktu fajar Islam mulai menyingsing maka agama Kristian itu sudahpun menguasai kawasan yang luasnya melingkungi Eropah Barat hingga ke Timur, termasuk Asia Barat dan Afrika Utara… akan tetapi impian agung dan idam-idaman yang tentu giat membujuk hasrat dan ghairah penganjur serta penganut-penganut agama Kristian Barat itu tiba-tiba getar gugur hancur akibat terbitnya Islam. Islamlah agama yang mula-mula menda’wahkan peranannya sebagai agama yang bersifat menyeluruh bagi anutan segenap masyarakat insani; agama yang merupakan fitrah atau mengandung bawaan asal sifat insani; yang mula-mula menda’wa bagi membetul dan melengkapkan agama-agama lampau, khususnya agama Yahudi dan Kristian; yang mula-mula menggugat dan melaberak dasar-dasar akidah agama Kristian…
Kemudian gugatan serta laberakan batin terhadap agama Kristian itu disusuli segera dengan cabaran (tantangan.pen.) zahir yang merupakan perkobaran Islam, dalam masa sejarah yang sesingkat lebih kurang lima puluh tahun sahaja, laksana api yang merebak menjalar keluar dari tanah Arab ke Mesir; ke Afrika Utara (al-Maghrib); ke Spanyol; ke Iraq; ke Syria; ke Farsi; ke India dan China sehingga sampai juga ke Kepulauan Melayu-Indonesia ini! Dalam masa hampir dua ratus tahun sesudah Hijratu’l-Nabiy (shallallaahu ‘alaihi wa sallam), maka jajahan dan kawasan Islam itu luasnya lebih jauh besar dari jajahan dan kawasan agama dan imperaturia manapun dalam dunia, dan melingkungi kawasan-kawasan Eropah Barat dan Timur termasuk negeri Turki. Orang-orang Islamlah yang pertama mena’lukkan orang Barat; yang pertama memainkan peranan besar dalam menyanjung tinggi pelita ilmu pengetahuan ke Eropah dan dengan demikian menerangi suasana gelap gulita yang menyelubungi dunia Barat dewasa itu; yang pertama melangsungkan pembicaraan akliah menerusi ilmu kalam dengan para failasuf dan ahli teologi agama Kristian Barat… Pukulan zahir batin yang mahahebat yang telah dikenakan oleh Islam kepada agama Kristian dan Kebudayaan Barat itu tentulah terasa oleh hati sanubarinya bagai sebatan cemeti yang terlalu amat pedih menggeleparkan, hingga lalu memaksa meragut keluar dari dalam kunhi jiwanya satu laungan mahadahshat yang ngilunya masih dirasai olehnya kini! “Shahadan, maka sesungguhnya tiada hairan bagi kita jikalau agama Kristaan Barat dan orang Barat yang menjelmakan Kebudayaan Barat itu, dalam serangbalasnya terhadap agama dan orang Islam, akan senantiasa menganggap Islam sebagai bandingnya, sebagai tandingnya, sebagai taranya dan seterunya yang tunggal dalam usaha mereka untuk mencapai kedaulatan duniawi.
Dan kita pun tahu bahawa tiadalah dapat Islam itu bertolak-ansur dalam menghadapi serangan Kebudayaan Barat, justru sehingga Kebudayaan Barat itu tentulah menganggap Islam sebagai seterunya yang mutlak; dan kesejahteraannya hanya akan dapat terjamin dengan kemenangannya dalam pertandingan mati-matian dengan Islam, sebab selagi Islam belum dapat ditewaskan olehnya maka akan terus ada tanding dan seteru yang tiada akan berganjak daripada mencabar dan menggugat kedaulatan serta faham dasar-dasar hidup yang dida’yahkan olehnya itu.”
Al-Attas mengimbau agar kaum Muslimin tidak alpa dan lena dalam mengemban tugasnya sebagai umat Islam. Umat Islam tidak seharusnya secara bulat-bulat menerima dan mengharapkan harapan yang sia-sia bantuan dan kerjasama serta persahabatan yang ikhlas dari yang lain. Ia mengajak umat Islam merenungkan makna firman Allah dalam surat al-Baqarah 120:
“Tiada akan orang Yahudi dan Kristian itu rela menerimamu melainkan kau jua yang dikehendaki mereka mengikut cara agamanya. Katakanlah (olehmu): Sesungguhnya Petunjuk Allah – itulah satu-satunya Petunjuk. Andai kata kau mengikut hawa nafsu mereka, sesudah sampai kepadamu Ilmu yang Sebenarnya, maka tiada akan kau dapati bagimu Pelindung mahupun Penolong yang akan dapat mencegah tindak balasan Allah.”
Diingatkan oleh al-Attas dengan bahasa yang lugas:
“Bukankah di zaman kita ini pun jelas bahawa orang-orang Yahudi dan Kristian – yang keduanya menjelmakan sifat asasi Kebudayaan Barat – memang tiada rela menerima baik seruan Islam dan kaum Muslimin, melainkan kita jua yang dikehendaki mereka mengikut cara agamanya? – menganuti sikap hidup yang berdasarkan semata-mata keutamaan kebendaan, kenegaraan dan keduniaan belaka. Dan agama dijadikannya hanya sebagai alat bagi melayani hawa nafsu. Bukankah Ilmu yang sebenarnya sudah sampai kepada kita?. Maka mengapa pula kita membiarkan sahaja nasib Umat kita dipimpin oleh pemimpin-pemimpin politik, kebudayaan dan ilmu pengetahuan dan juga para ulama yang lemah dan palsu yang sebenarnya tiada sedar bahawa mereka sedang mengekori hawa nafsu Kebudayaan Barat! Mereka membayangi Kebudayaan Barat dalam cara berfikir, dalam sikap beragama, dalam memahami nilai-nilai kebudayaan dan mengelirukan faham serta tujuan ilmu. Kepada Kebudayaan Baratkah akan kita berlindung, akan kita memohon pertolongan, yang akan dapat mencegah tindak balasan Allah kelak? Waspadalah saudaraku Muslimin sekalian!”
Berbeda dengan Samuel P. Huntington yang sejak tahun 1960-an sudah menjadi penasehat politik Amerika Serikat (AS), dan menulis bukunya, Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, untuk bahan merumuskan kebijakan politik negaranya, sosok al-Attas adalah sosok seorang ilmuwan dan akademisi yang sangat peduli dan berkecimpung dalam hampir seluruh hidupnya dalam dunia pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Al-Attas sama sekali bukan sosok politisi. Ia tipe ilmuwan murni, ulama, yang meyakini bahwa problema mendasar yang dihadapi umat Islam dan dunia internasional adalah masalah keilmuan (knowledge). Ia seperti mengikut jejak ulama-ulama Islam terdahulu, seperti al-Shafii, al-Ghazali, Imam Ahmad, dan sebagainya, yang bergiat dalam ilmu dan menjaga kemandirian dan sikap kritis terhadap penguasa. Sebagai ulama yang memiliki tanggung jawab keilmuan dan penjagaan aqidah dan eksistensi umat Islam, Naquib al-Attas menyerukan agar kaum Muslim – disamping memahami Islam dengan baik – juga memahami secara mendalam realita peradaban Barat. Ia mencatat bahwa, “Kebanyakan orang Islam belum lagi mengetahui dan mengenali apa dia sebenarnya Kebudayaan Barat itu. Sebelum dapat kita mengukuhkan diri terhadap serangan yang ditujukan kepada kita oleh Kebudayaan Barat maka perlulah bagi kita mengenali sifat-sifat asasi kebudayaan itu.”
Teori al-Attas tentang sifat-sifat asasi peradaban Barat dan Islam telah menarik banyak perhatian dunia internasional. Buku-bukunya diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Ia memiliki pendirian yang kokoh dan tajam, meskipun harus memberikan kritik langsung terhadap peradaban Barat di depan para cendekiawan Barat itu sendiri. Sebagai contoh, perhatian terhadap teori al-Attas adalah apa yang dilakukan oleh sebuah Foundation di Australia “The Cranlana Program” yang menerbitkan dua volume buku berjudul Powerful Ideas: Perspectives on the Good Society (2002). Buku ini menghimpun gagasan pemikir-pemikir besar dalam sejarah umat manusia. Gagasan al-Attas yang diambil adalah pemikirannya yang tertuang dalam sebuah tulisan berjudul “Dewesternization of Knowledge”.
Secara lebih sederhana, hakikat peradaban Barat dijelaskan al-Attas dalam buku Risalah untuk Kaum Muslimin:
“Biasanya yang disebutkan orang sebagai Kebudayaan Barat itu adalah hasil warisan yang telah dipupuk oleh bangsa-bangsa Eropah dari Kebudayaan Yunani Kuno yang kemudian diadun pula dengan campuran Kebudayaan Rumawi dan unsure-unsur lain dari hasil cita-rasa dan gerak-daya bangsa-bangsa Eropah sendiri, khususnya dari suku-suku bangsa Jerman, Inggris dna Perancis. Dari Kebudayaan Yunani Kuno mereka telah meletakkan dasar-dasar falsafah kenegaraan serta pendidikan dan ilmu pengatahuan dan kesenian; dari Kebudayaan Rumawi Purbakala mereka telah merumuskan dasar-dasar undang-undang dan hokum serta ketatanegaraan. Agama Kristian, sungguhpun berjaya memasuki benua Eropah, namun tiada juga meresap ke dalam kalbu Eropah. Justru sesungguhnya agama yang berasal dari Asia Barat dan merupakan, pada tafsiran aslinya, bukan agama baharu tetapi suatu terusan dari agama Yahudi itu, telah diambil- alih dan dirobah-ganti oleh Kebudayaan Barat demi melayani ajaran-ajaran dan kepercayaan yang telah lama dianutnya sebelum kedatangan ‘agama Kristian’. Mereka telah mencampuradukkan ajaran-ajaran yang kemudian menjelma sebagai agama Kristian dengan kepercayaan-kepercayaan kuno Yunani dan Rumawi, dan Mesir dan Farsi dan juga anutan-anutan golongan Kaum Biadab.”
Dengan sifat dan posisi agama Kristen, sebagai agama mayoritas bangsa Barat, semacam itu, maka Kebudayaan Barat sejatinya bukanlah berdasarkan pada agama, tetapi pada falsafah. Dalam hal ini, pandangan al-Attas sejalan dengan pandangan Iqbal, Sayyid Qutb, Ali an-Nadwi, Muhammad Asad, dan banyak cendekiawan Muslim lainnya. Namun, pandangan al-Attas tentang peradaban Barat ini tampak lebih mendalam dan sistematis, ketika ia berhasil meramu unsur-unsur pembentuk peradaban Barat itu dengan proporsional, terutama ketika mendudukkan posisi warisan Yunani Kuno, Romawi, dan Kristen dalam peradaban Barat. Dengan mengesampingkan agama dan menjadikan falsafah sebagai asas berpikirnya, maka tiada tempat dalam jiwa pengalaman mereka itu beragama sesuatu ketetapan mengenai keyakinan. Mereka hanya menegaskan dasar ‘teori’, yaitu ilmu pengetahuan atau hasil akal-nazari yang berlandaskan dugaan dan sangkaan-sangkaan dan pencapaian akal jasmani yang mungkin benar dan mungkin tidak benar. Maka dari itu, dasar ‘ilmu’ yang demikian dan sikap hidup yang menjadi akibatnya, tiadalah akan dapat membawa kepada keyakinan. Sifat agama Kristen itu sendiri, yang problematis dalam asas-asas kepercayaannya, menurut al-Attas, juga turut membentuk sikap peradaban Barat. Secara singkat, al-Attas menyimpulkan sifat-sifat asasi Kebudayaan Barat, yaitu (1) berdasarkan falsafah dan bukan agama, (2) falsafah yang menjelmakan sifatnya sebagai humanisme, mengikrarkan faham penduaan (dualisme) yang mutlak dan bukan kesatuan sebagai nilai serta kebenaran hakikat semesta, dan (3) Kebudayaan Barat juga berdasarkan pandangan hidup yang tragic. Yakni, mereka menerima pengalaman ‘kesengsaraan hidup’ sebagai suatu kepercayaan yang mutlak yang mempengaruhi peranan manusia dalam dunia.
Dengan memahami hakikat peradaban Barat yang tidak berdasarkan agama dan hanya berdasarkan spekulasi semacam itu, Al-Attas sampai pada kesimpulan bahwa problem terberat yang dihadapi manusia dewasa ini adalah hegemoni dan dominasi keilmuan Barat yang mengarah pada kehancuran umat manusia. Satu fenomena yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Al-Attas memulai tulisannya dalam ‘Dewesternization of Knowledge’ dengan ungkapan, bahwa sepanjang sejarahnya, manusia telah menghadapi banyak tantangan dan kekacauan. Tetapi, belum pernah, mereka menghadapi tantangan yang lebih serius daripada yang ditimbulkan oleh peradaban Barat saat ini.
Kritik-kritik al-Attas terhadap karakteristik keilmuan Barat modern, misalnya, juga disampaikan saat Konferensi Internasional para Filosof pada Januari 2000, di University of Hawai. Konferensi ini diikuti oleh sekitar 160 cendekiawan dari 30 negara dan berlangsung selama dua minggu. Tema yang dibahas ialah “Technology and Cultural Values on the Edge of the Third Millennium”. Dalam editorialnya terhadap buku kompilasi hasil konferensi itu, tiga ilmuwan terkenal, yaitu Pater D. Hershock, Marietta Stepaniants, dan Roger T. Ames, mencatat bahwa paparan al-Attas yang menyorot kesesuain dan ketidaksesuaian antara tradisi Barat dalam sains dan teknologi dengan sistem epistemologi dan metafisika Islam, merupakan paparan yang artikulatif, cermat, dan sistematis, tentang basis revisi Islami terhadap tujuan dan premis-premis moral dalam sains dan teknologi.
Dalam uraiannya ini, al-Attas banyak menjelaskan berbagai perbedaan fundamental antara konsep sekular Barat dan Islam dalam berbagai persoalan. Dalam soal konsep kebahagiaan (happiness), misalnya, al-Attas menjelaskan sikap Muslim yang menolak konsep Aristotelian tentang kebahagiaan yang hanya menyentuh aspek duniawi, dan hingga kini diikuti oleh konsep modern. Ia menegaskan tentang sikap pandangan hidup (worldview) Islam yang tidak memisahkan aspek duniawi dengan akhirat. Konsepsi modern tentang kebahagiaan, (sa’adah) menurut al-Attas, esensinya sama dengan konsepsi manusia di masa lalu, di era paganisme. Sedangkan konsep kebahagiaan dalam Islam, akan dialami dan disadari oleh orang-orang yang benar-benar tunduk dan patuh kepada Allah dan mengikuti bimbingan-Nya. Puncak kebaikan dalam hidup adalah Cinta kepada Allah.
Dalam berbagai tulisan dan ceramahnya, al-Attas tampak berusaha keras memberikan keyakinan kepada kaum Muslimin, terutama para cendekiawannya, tentang keagungan konsep peradaban Islam, dibandingkan konsep peradaban lainnya. Ia sangat menekankan perlunya kaum Muslimin mengkaji dan memahami khazanah keilmuan yang telah dicapai para ulama Muslim yang agung di masa lalu. Ia menanamkan jiwa optimisme, meskipun Islam menghadapi serangan hebat dari berbagai penjuru. Tahun 1959, jauh sebelum menempuh jenjang pendidikan tinggi di Barat, al-Attas sudah mengamati kondisi kaum Muslimin yang memilukan. Ketika itu, ia menulis sebuah puisi:
Muslim tergenggam belenggu kafir,
Akhirat luput, dunia tercicir,
Budaya jahil luas membanjir,
Banyak yang karam tiada tertaksir.
Sebab utama yang melilit kondisi kaum Muslimin, kata al-Attas, adalah kejahilan masyarakat Islam terhadap Islam, sebagai agama yang sebenarnya dan peradaban yang luhur dan agung yang telah menghasilkan ilmu-ilmu Islamiyah yang mampu mewujudkan pandangan hidup (worldview) tersendiri yang unik.
Paparan al-Attas tentang peradaban Barat perlu dikaji secara cermat. Sebab, apa yang disampaikannya berpuluh tahun lalu kini banyak menjadi kenyataan. Kaum Muslim – khususnya di Indonesia – kini disuguhi satu tragedi intelektual yang memilukan. Begitu banyak sarjana Muslim yang terpesona dan mengagungkan pandangan hidup Barat dan teori-teori para ilmuwan Barat, meskipun harus mengorbankan keyakinan Islam. Al-Attas mengajak kaum Muslimin untuk memahami Barat secara mendalam, bukan bersikap anti-Barat. Banyak hal yang dapat diambil dan dipelajari dari Barat, tetapi bukan menjiplak pandangan hidup Barat yang mengebiri dan membunuh agama sendiri, semisal paham sekularisme dan pluralisme agama.
Jika Barat maju secara fisik dengan membuang dan mengebiri agamanya, kaum Muslimin tidak perlu mencontoh mereka. Sebab, Islam memang berbeda dengan Kristen. Dengan mengkaji Barat dengan baik, dan juga Islam dengan baik, menurut al-Attas, maka kaum Muslim tidak akan mengalami sikap rendah diri. Sebab mereka memiliki ajaran agama dan Kitab Suci yang agung. Wallahu a’lam. (KL, 4 November 2004).
Rabu, 05 Mei 2010
Sabtu, 27 Februari 2010
Bina Insani Asosiation of Teacher " BITA "
Kajian dan Dialog Interaktif “ Menguatkan Kemandirian Umahat dalam Meningkatkan Kesejahteraan Rumah Tangga“

Belum lama ini Departemen An Nisa LSU Bina Insani bekerja sama dengan PKBM Bina Insani Kecamatan Sruweng mengadakan acara Kajian dan Dialog interaktif dengan tema “ Menguatkan Kemandirian Umahat dalam Meningkatkan Kesejahteraan Rumah Tangga “. Acara tersebut diadakan di Halaman PUD PKBM Bina Insani Desa Karangjambu Kecamatan Sruweng yang dihadiri sekitar dua ratus ibu ibu.Sebagai pembicara dalam acara tersebut adalah Ibu Shoimah dan Sdri Ririn dari toko Asri Kebumen.
Menurut ketua departemen An nisa LSU Bina Insai Siti Khubriyati, S. Ag kegiatan seperti ini memang menjadi ageda utama yang secara rutin dilaksanakan dalam rangka terus menguatkan peran muslimah dalam mewujudkan peradaban yang lebih baik dimasa yang akan datang.
Kamis, 28 Januari 2010
KELAS V MEMANG "ISTIMEWA"
"Lain dari yang lain", adalah label untuk anak-anak kelas V SDIT Logaritma. Tidak bisa duduk tenang, heboh, susah diatur adalah suasana Kelas V hampir setiap harinya.
Untuk menangani anak-anak istimewa seperti Kelas V memang dibutuhkan penanganan yang istimewa. Guru yang istimewa, metode pembelajaran yang istimewa, dan tentunya orang tua yang istimewa pula...
Guru yang istimewa adalah guru yang kreatif dalam mengajar (tidak memakai cara-cara yang konvensional), guru yang tidak pernah berhenti belajar, dan guru yang mengajar muridnya dengan segenap jiwa.
Menarik sekali apa yang dipaparkan oleh Munif Chatib di buku best sellernya "Sekolahnya Manusia", tentang metode pembelajaran yang kreatif, yang istimewa, karena memperhatikan beberapa aspek kecerdasan (multiple intelligences). Dan yang paling penting adalah menjadikan sekolah betul-betul sekolahnya manusia, bukan sekolahnya robot seperti yang banyak dipraktekkan di Indonesia. (mudah-mudahan SDIT Logaritma tidak)
Orang tua yang istimewa adalah orang tua yang tak pernah berhenti belajar untuk mendidik anak-anaknya, mendidik dengan sepenuh jiwa sebagaimana Luqmanul Hakim ketika mendidik anaknya. Sayangnya banyak dari orang tua (termasuk saya) merasa sudah mendidik dengan cukup kalau sudah menyekolahkan (apalagi di SDIT).
Dengan dibentuknya paguyuban orang tua murid di kelas V, lewat program-program yang digulirkan mudah-mudahan bisa sedikit membantu guru, khususnya wali kelas dalam mendidik anak-anak.
Program yang sudah terealisasi adalah :
Semoga kedepannya paguyuban bisa memberikan lebih dari yang sekarang, demi menghasilkan anak-anak yang unggul....dalam akal, dan yang terpenting unggul dalam jiwa (iman).
Keinginan dari ketua paguyuban adalah mengundang Munif Chatib untuk memberikan workshop kepada para asatidz SDIT Logaritma....biar metode pembelajaran di SDIT Logaritma semakin oke, dan bisa merubah anak-anak Kelas V yang lain dari yang lain, menjadi betul-betul istimewa. Dan Munif Chatib telah membuktikannya di sekolah binaannya, Yayasan Islam Malik Ibrahim Gresik.
Bagaimana....?Ada yang mau bantu mengundang Pak Munif ?
Karanganyar, 29 Januari 2010
(Ummu Yumna)
Untuk menangani anak-anak istimewa seperti Kelas V memang dibutuhkan penanganan yang istimewa. Guru yang istimewa, metode pembelajaran yang istimewa, dan tentunya orang tua yang istimewa pula...
Guru yang istimewa adalah guru yang kreatif dalam mengajar (tidak memakai cara-cara yang konvensional), guru yang tidak pernah berhenti belajar, dan guru yang mengajar muridnya dengan segenap jiwa.
Menarik sekali apa yang dipaparkan oleh Munif Chatib di buku best sellernya "Sekolahnya Manusia", tentang metode pembelajaran yang kreatif, yang istimewa, karena memperhatikan beberapa aspek kecerdasan (multiple intelligences). Dan yang paling penting adalah menjadikan sekolah betul-betul sekolahnya manusia, bukan sekolahnya robot seperti yang banyak dipraktekkan di Indonesia. (mudah-mudahan SDIT Logaritma tidak)
Orang tua yang istimewa adalah orang tua yang tak pernah berhenti belajar untuk mendidik anak-anaknya, mendidik dengan sepenuh jiwa sebagaimana Luqmanul Hakim ketika mendidik anaknya. Sayangnya banyak dari orang tua (termasuk saya) merasa sudah mendidik dengan cukup kalau sudah menyekolahkan (apalagi di SDIT).
Dengan dibentuknya paguyuban orang tua murid di kelas V, lewat program-program yang digulirkan mudah-mudahan bisa sedikit membantu guru, khususnya wali kelas dalam mendidik anak-anak.
Program yang sudah terealisasi adalah :
- Pemberian piagam penghargaan untuk setiap anak pada akhir semester I, karena setiap anak memang berhak mendapat penghargaan. Mereka berhak menjadi juara sesuai dengan potensi dan kecerdasan yang mereka miliki. Ada yang juara dalam bidang menggambar (kecerdasan visual - spasial), bidang menulis (kecerdasan linguistik), bidang olah raga (kecerdasan kinestik), dll.
- Pengadaan rak buku untuk perpustakaan kelas (walaupun sangat sederhana).
- Pengadaan buku Kegiatan Siswa.
- Pengadaan CD pembelajaran dan buku-buku bacaaan.
Semoga kedepannya paguyuban bisa memberikan lebih dari yang sekarang, demi menghasilkan anak-anak yang unggul....dalam akal, dan yang terpenting unggul dalam jiwa (iman).
Keinginan dari ketua paguyuban adalah mengundang Munif Chatib untuk memberikan workshop kepada para asatidz SDIT Logaritma....biar metode pembelajaran di SDIT Logaritma semakin oke, dan bisa merubah anak-anak Kelas V yang lain dari yang lain, menjadi betul-betul istimewa. Dan Munif Chatib telah membuktikannya di sekolah binaannya, Yayasan Islam Malik Ibrahim Gresik.
Bagaimana....?Ada yang mau bantu mengundang Pak Munif ?
Karanganyar, 29 Januari 2010
(Ummu Yumna)
Sabtu, 23 Januari 2010
Pendirian Pondok Pesantren Terpadu “DAARUTH THOYIBAH”
Kabupaten Kebumen adalah daerah yang secara kesejarahan merupakan daerah pusat Islam, karena itu hampir semua sentra-sentra Islam di Kebumen mempunyai akses yang amat jelas dengan pusat-pusat pemerintahan Islam pada waktu itu. Somalangu yang kita kenal dengan Pondok Pesantren Al Kahfi, amat dekat dengan Kerajaan Demak, Banjursari (Buluspesantren) yang merupakan keturunan Somalangu amat dekat dengan Kesultanan Mataram dan Pangeran Diponegoro masa muda/ remajanya dihabiskan belajar di Brangkal (sekarang desa Klopogodo-kec.Gombong).
Dari semangat itulah kami putra Kebumen yang hidup di jaman ini ingin berbuat sesuatu yang bisa kami lakukan dan sekecil apapun sebagai upaya meng-aktualisasi inovasi pendidikan Islam agar bisa eksis di jaman ini, sesuai dengan jaman yang senantiasa berkembang. Sebagaimana wasiat agung yang disampaikan Umar bin Khathab : “…. didiklah anak-anakmu karena mereka ini akan hidup di suatu jaman yang bukan jaman-mu”
Keyakinan itu sama dan abadi sepanjang jaman, namun problem yang dihadapi akan senantiasa berbeda,.maka kami berencana mendirikan sebuah Pondok Pesantren Terpadu “DAARUTH THOYIBAH” di Desa Jatiluhur, Kecamatan Karanganyar yang merupakan pendidikan alternatif , dan merupakan kelanjutan dari sekolah yang sudah ada dibawah Yayasan Bina Insani Kebumen sebuah pendidikan pesantren atau boarding school.
Berkaitan dengan hal diatas kami berharap bantuan dan donasinya.
Dari semangat itulah kami putra Kebumen yang hidup di jaman ini ingin berbuat sesuatu yang bisa kami lakukan dan sekecil apapun sebagai upaya meng-aktualisasi inovasi pendidikan Islam agar bisa eksis di jaman ini, sesuai dengan jaman yang senantiasa berkembang. Sebagaimana wasiat agung yang disampaikan Umar bin Khathab : “…. didiklah anak-anakmu karena mereka ini akan hidup di suatu jaman yang bukan jaman-mu”
Keyakinan itu sama dan abadi sepanjang jaman, namun problem yang dihadapi akan senantiasa berbeda,.maka kami berencana mendirikan sebuah Pondok Pesantren Terpadu “DAARUTH THOYIBAH” di Desa Jatiluhur, Kecamatan Karanganyar yang merupakan pendidikan alternatif , dan merupakan kelanjutan dari sekolah yang sudah ada dibawah Yayasan Bina Insani Kebumen sebuah pendidikan pesantren atau boarding school.
Berkaitan dengan hal diatas kami berharap bantuan dan donasinya.
Langganan:
Postingan (Atom)